milik, memiliki, dimiliki….

milik, memiliki, dan dimiliki…

satu paket ? bisa ya, bisa ga…tergantung.

misalnya lo merasa dimiliki seseorang, maka lo menjadi milik seseorang, dan seseorang itu memiliki lo…satu paket kan?

tapi…ternyata lo tidak merasa memiliki seseorang itu meskipun lo dimiliki olehnya…tidak sepaket lagi bukan ?

kadang-kadang kita sering terjebak di ‘paket’ itu,

"ini punya g", "itu punya lo", "yang di sana punya mereka", "yang di sini punya dia"….

malah kadang-kadang terjadi pemaksaan dalam ‘pemaketan’ itu.

saling rampas, saling saing, saling tindas, saling silang…

yah, memang…milik, memiliki, dimiliki,

perlu, biar ada sedikit keteraturan, ga sembarangan, ga sembrono, ga asal pakai, ga asal comot, ga asal tarik, ga asal ngaku…

perlu, biar ada imbalan atas jerih payah, biar perjuangan ada hasilnya, biar menjadi penyemangat kalo lagi ga semangat…

tapi….miliki, memiliki, dimiliki,

ga perlu, kalo jadi memperbudak, kalo jadi segala-galanya dalam hidup, kalo mengganggu kesetimbangan,

ga perlu, kalo harus saling rampas, saling tindas, saling sakit, saling sikut, saling silang….

toh, sebenarnya di hidup ini ga ada yang benar-benar milik, memiliki, dan dimiliki..

‘wong kita semua cuma dipinjemin, dititipin, diamanatin ama yang yang Maha Punya, Maha Milik, Maha Memiliki…

makin besar titipan, pinjeman, dan amanahnya, makin besar tanggung jawabnya…makin besar godaannya…

tapi, kadang kita memang lupa (g sih sering banget lupa dan cenderung ga sadar diri…hehehe) kalo kita semua dimiliki, tapi gak pernah benar-benar punya milik dan memiliki,

bahkan diri sendiri pun…

jadi, ga sepaket kan ? (lho, masih ngomongin paket yaa????)

Leave a Reply