ironi
pernah ga ngerasa kalo ironi dekat frekuensinya dengan hidup?
g sedang merasakannya…
g rasa, ironi berdetak hampir bersamaan dengan hidup
(hidup g mungkin ya, ga tau deh hidup orang lain..g ga mau sok tau ahh…)
kayak misalnya,
pas g lagi sibuk, g pengen banget ngelakuin banyak hal yang menurut g adalah hal-hal baik
tapi pas g lagi punya waktu, g malah melakukan hal-hal tidak penting dan entah dengan mekanisme apa g lupa akan rencana g tentang hal-hal baik……..ironis.
pas g lagi ga punya uang lebih, g punya banyak kesempatan buat ngayalin g mu ngapain aja kalo g punya uang lebih,
tapi pas g lagi punya uang lebih, g ga punya banyak kesempatan buat mewujudkan hayalan g,…….ironis.
pas g lagi jauh ama orang-orang yang berarti buat g, g sangat merindukan mereka dan punya banyak rencana menyenangkan untuk dilakukan,
tapi pas g lagi dekat dengan mereka, g malah sibuk ga jelas ama hal-hal lain yang belum tentu penting juga dan mereka pun menjadi terabaikan……..ironis.
pas harga-harga lagi melonjak naik dan semakin banyak orang yang susah untuk sekedar bertahan hidup (apalagi meningkatkan hidup, meskipun segala macam teori dan analisa ekonomi mutakhir menunjukkan hal yang berbeda dengan kenyataan, kenyataan!),
tapi pihak yang katanya mewakili rakyat malah dapat kenaikan tunjangan (padahal pendapatan sebelumnya udah besar untuk standar hidup di negri ini)………ironis.
….dekat ya dengan kehidupan (g)…….
g malah pernah dengan sengaja menjadi skeptis untuk melindungi diri (atau lari ya) dari ironi,
yaaa, g capek sendiri, karena ironi emang ga bisa dihindari,
tapi..jangan menyerah pada ironi, karena kalau ironi dibiarkan menang dia akan merajalela,
diajak berdamai saja, biar tidak terlalu menyakiti.
toh ironi kadang berguna, buat ngingetin g kalo bersyukur itu perlu….
bersyukur dan menikmati sekarang, saat ini.