Archive for July, 2005

baik buruk

Thursday, July 7th, 2005

g baru aja nonton oprah winfrey show, di metro tv.

ga tau edisi kapan (ga penting juga), temanya tentang pembunuhan..

so this woman, was a good person..murdered by her husband which is a trustable person in her family….

how could such a terrible thing happen to a nice person?

itu masih jadi pertanyaan besar juga buat g,

kaya’ misalnya, kenapa hal-hal buruk bisa terjadi pada orang-orang baik?

apakah tidak ada orang yang benar-benar cukup baik untuk bisa lepas

dari hal-hal buruk?

atau mungkin ini memang bukan perdagangan atau pertukaran akhlak yang absolut

orang (yang dianggap) baik, belum tentu akan mengalami hal baik, karena hal baik bisa terjadi pada orang (yang dianggap) baik atau orang (yang dianggap) tidak baik

hal-hal baik tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang (yang dianggap) baik saja

jadi, jika ingin menjadi orang (yang dianggap) baik, mungkin sebaiknya bukan karena alasan atau motivas ingin mengalami hal-hal baik, karena ya itu tadi, ini bukan perdagangan akhlak..

lalu, mengapa kita sebaiknya menjadi orang (yang dianggap) baik?

manusia memiliki default sifat-sifat baik, …

jika nurani nya belum mati, suri ataupun benar-benar mati, hal-hal baik yang dilakukan akan memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan tersendiri (jangan tanyakan bagaimana rasanya, karena tiap orang memiliki standar yang berbeda untuk hal-hal ini)

sedangkan hal-hal tidak baik, akan memiliki efek rasa tersendiri karena sebenarnya hal tersebut melanggar default, meski pada akhirnya pengrusakan default tersebut dapat melahirkan default yang baru “ guilty pleasure of doing bad things”…

semoga, default dan nurani kita belum benar-benar rusak,,,

g percaya, tiap jiwa punya sisi baiknya, yang semoga tidak benar-benar mati dan musnah

orang (yang dianggap) baik, sifat baik adalah sifat dominan,

orang (yang dainggap) tidak baik, sifat baik adalah sifat resesif,….semoga tetap akan hidup,

dan akan muncul secara frekuentatif…

Jatuh Cintakah?

Friday, July 1st, 2005

Kadang-kadang aku kagum pada orang-orang yang bisa mendefinisikan apa yang mereka rasakan. Aku kagum pada mereka yang bisa memastikan bahwa mereka sedang jatuh cinta misalnya. Aku juga pernah mengatakan bahwa “aku jatuh cinta..”, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar yakin tentangnya.

Sebenarnya fase jatuh cinta itu yang bagaimana ?

Apakah perasaan gembira luar biasa ketika berinteraksi dengannya merupakan salah satu tandanya? Atau keinginan yang sangat kuat untuk memilikinya? Menyerahkan segala-galanya? Tumpuan segala harapan dan impian? Penjelmaan dari obsesi terbesar yang pernah terpikirkan? Keutuhan yang tercipta jika sedang bersama? Merasa bahwa dialah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup ini? Rela melakukan apa saja? Rasa kangen yang juga memiliki tingkatan-tingkatan tertentu, mulai dari rasa kangen yang cuma lewat selintas hingga rasa yang sangat sulit untuk dihilangkan dan bisa membuat seseorang meneteskan airmata karenanya? Sensasi rasa yang sulit dijelaskan jika diri secara tidak siap menerima pujian, rayuan, atau gombalan? Hal pertama yang terpikirkan ketika bangun dan hal terakhir yang teringatkan ketika menjelang tidur?Segala bentuk kontak fisik melahirkan reaksi tertentu di dalam tubuh? Sakit yang berteriak-teriak di dalam sana jika sesuatu tidak terjadi sesuai harapan? Kekosongan yang tidak berdasar pada saat ditinggalkan? Keikhlasan yang luar biasa untuk menerima segala kekurangan? Kelapangan hati untuk memaafkan kesalahan apapun? Sesuatu yang berharga untuk dinantikan? Apakah yang seperti itu? Mungkin beberapa cuplikan pemikiran itu belum cukup untuk menggambarkan apa yang dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta atau apapun namanya.

Lalu, jika cuplikan-cuplikan itu senantiasa muncul, saling bergantian satu sama lain, dan tiba-tiba suatu saat semua itu hilang, sensasi rasa tidak lagi ada, rasa bahagia dan sakit tidak lagi berbeda,apakah masih jatuh cinta namanya? Atau apakah pernah jatuh? Jangan-jangan yang sebenarnya terjadi bukan jatuh cinta, tetapi hanya sandungan cinta, jegalan cinta, tapi tidak jatuh. Hmm…atau semua ini memang bukan untuk dipikirkan, tapi hanya untuk dirasakan, dialami, dan dilewati. Tapi ketika aku mengalaminya, aku ingin berujar bahwa “aku jatuh cinta..”. Aku ingin membagi sensasi itu dengan sekitar. Aku ingin memberinya nama. Tapi bagaimana jika aku salah dalam mendefinisikannya? Salah dalam mengelompokkannya? Salah dalam mendeskripsikannya? “Hei orang-orang” ,yang pernah berujar bahwa mereka jatuh cinta,” Bantu aku”.

Apakah jatuh cinta mesti diikuti dengan kepemilikan? Apakah jatuh cinta ada akhirnya? Mungkinkah jatuh cinta bisa tiba-tiba berhenti? Mengapa kita tidak bisa memilih orang yang ingin kita jatuh cintai? Mengapa jatuh cinta seringkali mematikan logika? Mengapa tidak semua jatuh cinta menjadi kisah cinta?

Mungkin kalau semua peristiwa jatuh cinta menjadi kisah cinta yang bahagia, tidak akan ada istilah patah hati. Tapi itu tidak mungkin,kan?. Hidup ini merupakan kumpulan dari kesetimbangan, jadi patah hati harus ada. Yin dan Yang, Chaos dan Anti-Chaos, Jatuh cinta dan patah hati.

Setelah mikir2 beberapa saat, aku memutuskan untuk tidak membatasi peristiwa sakral itu. Peristiwa jatuh cinta. Fase di mana semua begitu menyenangkan, begitu menggelitik, membuat otot wajah selalu berinteraksi untuk menyunggingkan senyuman atau bahkan tawa. Yah, mungkin ada tingkatan jatuh nya. Ada jatuh cinta yang dangkal, ada yang begitu dalam. Semuanya tetap jatuh cinta,tetap sensasional, datang dan pergi, dan tetap punya patah hati sebagai keseimbangannya. ‘mbok dinikmati saja (kata yang sudah berpengalaman), ga usah dibuat susah, tidak perlu takut juga. Manusiawi kok. Silahkan menikmati sensasi, gejolak, gairah, mimpi, dan harapan dari jatuh cinta. Jangan lari ketika hati menjadi patah karena cinta yang jatuh tidak terkait. Jangan pura-pura kuat untuk menahan sakitnya. Jangan kapok untuk mengumpulkan serpihan-serpihan hati guna dirangkai kembali. Jangan takut untuk jatuh cinta berulang-ulang (salah satu bentuk pembenaran yang yah..bisa dipakai). Jangan mengkultuskan seseorang lah (terima kasih kepada yang pernah mengucapkan ini padaku). Dan yang paling penting untuk coba dipikirkan, diresapi, dan diamalkan adalah jangan berbohong untuk apa yang kita rasakan. Pembenaran masih sah untuk menghimpun suatu kekuatan, atau pelarian, tapi sisakan sedikit ruang jujur di hati untuk dikunjungi, dirasakan, dan diucapkan suatu saat. Semoga saat itu tidak datang terlambat….